"Kamu dan para imam dari keturunanmu sesudahku ibarat perahu nabi Nuh; siapa yang naik di atasnya selamat, dan siapa yang menolak (tidak mau mengikuti seruannya) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang ; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”

(H.R
Imam Bukhari, Al Hakim dan Adz Dzahabi)

Kamis, 11 Februari 2010

Khutbah Nabi di Ghadir Qum I

1.Sumber Data Khutbah Nabi di Ghadir Khum

Data khutbah Nabi ini diambil dari karya DR. Ali Akbar Shadeqi yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Husein Shahab dan diterbitkan oleh Pustaka Pelita, Bandung, cetakan pertama pada April 1998. Ali Akbar Sadeqi juga menjelaskan data khutbah Ghadir khum ini terdapat dalam 18 belas kitab yang ditulis baik oleh ulama kalangan Sunni dan Syi’ah (lihat Ali Akbar Shadeqi; hlm. 19-21).

2. Pentingnya Studi Sejarah

Sejarah, kata Thomas S. Kuhn, penulis karya terkenal “The Structure of Scientific Revolution”, jika lebih dipandang sebagai khazanah daripada sekedar anekdot dan kronologi, dapat menghasilkan perubahan yang menentukan dalam citra pengetahuan.

Perubahan-perubahan interpretasi (penjelasan) di dalam sejarah, Kata Louis Gottschalk, sering disebabkan karena ditemukannya data dari sumbernya yang selama ini hilang atau tersembunyi. Dua teori di atas mengarah kepada makna yang sama, bahwa peluang terjadinya perubahan orientasi (wawasan) amat terbuka dalam memahami sejarah menyusul ditemukannya data sejarah dari sumbernya yang selama ini hilang atau tersembunyi.

Data sejarah umat Islam yang menggambarkan peristiwa penting di masa awal adalah khutbah Nabi Saw di Ghadir Khum ini. Pada dasa warsa tahun 1990 an, diskusi di sekitar masalah Ghadir Khum ini menampakkan kecenderungan yang meningkat meskipun belum naik ke atas permukaan sejarah dan menjadi arus yang dominan dalam perjalanan sejarah umat Islam. Situasi semacam ini merupakan karunia sejarah bagi kita warga Jama’ah Lil-Muqorrobien untuk ikut mengambil peran dalam usaha menjadikan data Ghadir Khum ini menjadi tema utama dalam wacana peradaban menuju terjadinya tranformasi orientasi (perubahan wawasan). Transformasi macam ini berada pada dataran teoritik dan intelektual, yang pada gilirannya, diharapkan bisa melahirkan perubahan sikap pada dataran praktis dan moral (tingkah laku).

Meminjam model hermeneutika-filsafat Martin Heidegger, bahwa tujuan dari pemahaman terhadap teks (termasuk data sejarah) tidak lagi untuk memperoleh pengetahuan yang obyektif sebagaimana anjuran dari hermeneutik teori model Emilio Bettti, melainkan bertujuan praktis, yakni lahirnya pengetahuan yang relevan yang dapat membuat perubahan bagi seseorang karena menyadari diperolehnya peluang-peluang baru guna membentuk esksistensi diri dan tanggung jawabnya bagi masa depan.


Khutbah Ghadir Khum, jelas, memiliki peluang melahirkan orientasi baru dan dengan demikian juga punya peluang melahirkan eksistensi manusia baru. Khutbah Ghadir Khum ini berpeluang menggugah kesadaran batin seseorang setelah akal sehatnya yang bening dan tanpa prasangka nafsu mengakui keabsahan data ini secara obyektif.

3. Isi Pokok dan Garis besar Khutbah Ghadir Khum

Isi pokok khutbah Ghadir Khum adalah kepemimpinan umat sesudah Nabi Muhammad Saw ada pada Ali kemudian dilanjutkan oleh para imam sesudah Ali dari keturunan Nabi Saw melalui jalur Ali serta ketentuan baiat kepada Ali dan para imam sesudahnya.

Secara garis besar, Khutbah Ghadir Khum ini dapat dipilah menjadi dua bagian;
a. Bagian pendahuluan memuat puji-pujian dan keagungan Allah dan diakhiri dengan pernyataan terbuka bahwa Nabi diperintahkan untuk menyam-paikan satu ayat firman Allah yang berkait dengan pesan risalah mengenai kepemimpinan umat setelah beliau.

b. Bagian kedua berisi materi khutbah. Bagian ini dapat dijabarkan dalam beberapa poin; yakni teknis dan sasaran seruan, ide yang terkandung dalam materi khutbah, targhib dan tahdid (harapan dan ancaman), serta kepemim-pinan para imam dari keturunan Nabi Saw yang lahir dari darah Ali.


i). Teknis dan sasaran (mukhatab) seruan.

Khutbah di Ghadir ini disampaikan kepada lebih dari seratus ribu umatnya yang hadir dalam peristiwa ini.. Nabi Saw tidak menyeru mereka dengan ungkapan “wahai orang-orang mukmin” (ma’asyiral-mukminin) melainkan dengan “wahai manusia” (ma’asyiran-nas;), dan seruan dengan ungkapan ini diulang sebanyak 53 kali. Dua kali seruan lainnya menggunakan ungkapan “ayyuhan-nas”.

Persoalan mengenai mengapa Nabi Saw tidak menggunakan ungkapan "wahai orang-orang mukmin” melainkan dengan “wahai manusia” terhadap mereka yang hadir dalam khutbah ini terjawab dari isi (materi atau isi yang terkandung) di dalam khutbah beliau yang mengklasifikasikan mereka yang hadir di hadapan beliau menjadi dua kelompok;
- orang-orang yang muttaqin,
- orang-orang munafiqin yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kelompok muttaqin.

Secara teknis, kajian analisis ini akan memberi nomer untuk setiap seruan “ma’asyiran-nas” dan “ayyuhan-nas” mulai dari nomer 1 sampai nomer terakhir. Setelah itu disertakan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diberikan pokok-pokok isi khutbah.

ii). Ide yang terkandung dalam materi Khutbah

Ide sentral dan pokok khutbah Nabi Saw menggambarkan dua hal; yaitu tentang status Ali bin Abi Thalib serta para Imam sesudahnya dan tentang peran yang diemban oleh mereka. Sebelumnya akan dikemukakan penjelasan teoritik mengenai status dan peran.

Teori Mettu Zachariah memberikan penjelasan tentang perbedaan “status” dan “peran”. Menurutnya, status menggambarkan kedudukan dan posisi seseorang dalam suatu struktur masyarakat; sedangkan peran menggambarkan rincian-rincian tugas, penjelasan-penjelasan yang berkait dengan terpenuhinya perbuatan yang seharusnya dilaksanakan oleh seseorang yang menempati posisi tertentu. Kepala Desa, misalnya, adalah status atau jabatan di dalam suatu struktur masyarakat yang padanya ada peran yang harus dipenuhi. Seseorang yang menduduki jabatan sebagai Kepala Desa dituntut memenuhi perannya yang harus dilaksanakan sebagai Kepala Desa. Suami atau Bapak adalah kepala keluarga; dan sebagai kepala keluarga dia harus memainkan peran yang seharusnya dipenuhi oleh kepala keluarga. Pada hemat kami, status berkait dengan potensi atau fakta kualitas seseorang, misalnya, dia diangkat menjadi Kepala Desa atau Kepala Sekolah atau sebagai Pemimpin masyarakat karena dia memang punya potensi dan kualitas untuk menduduki jabatan tersebut. Sementara itu, peran berkait dengan kewajiban-kewajiban, tugas-tugas, harapan-harapan yang harus dipenuhi menyusul kedudukan dan jabatan yang diperoleh seseorang.

ii-a). Status sayyidina Ali as (‘alaihis-salam),

dalam khutbah Ghadir Khum ini, Nabi Saw menjelaskan kepada umatnya yang hadir dalam khutbah itu mengenai berbagai status Ali. Secara eksplisit status Ali dinyatakan oleh Nabi Saw.

ii-b). Potensi dan Kualitas sayyidina Ali as (‘alaihis-salam)
Status Ali tersebut berkait dengan potensi dan kualitas-kualitas yang ada pada dirinya sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Rasulullah Saw. Potensi-potensi dan kualitas-kualitas itu antara lain:
“Dia (Ali) adalah orang yang paling utama sesudahku di antara laki-laki dan wanita di mana Allah memuliakannya, Dia orang yang menyertai Rasulullah dalam menyembah Allah manakala tak ada seorang pun menyertai Rasulullah selain dia (dalam menyembah Allah), Dia adalah penolong agama Allah dan pembela Rasulullah, dia seorang yang taqwa dan suci yang memberi petunjuk, ingatlah, sesungguhnya Ali adalah orang yang berwatak sabar, dan mau bersyukur dan setelah dia adalah keturunanku yang terlahir dari dirinya (dari sulbinya), dia adalah jalan lurus (sirathal-mustaqim) sesudahku kemudian dilanjutkan keturunanku dari dirinya, yakni para imam yang memberi bimbingan ke jalan yang haq dan dengan jalan yang haq itulah mereka berlaku adil, aku (Nabi Saw) telah memberikan semua ilmu yang aku miliki kepada Ali”.

ii-c). Para Imam sesudah Imam Ali, dan Imam yang Terakhir.
Di dalam khutbah di Ghadir Khum ini Nabi Muhammad Saw menggambarkan para Imam sesudah sayyidina Ali as dan Imam yang terakhir antara lain;

"Al-Quran memberitahu kepadamu bahwa para Imam sesudah Ali adalah putera-puteranya. Aku (Nabi Saw) juga memberitahu kepadamu bahwa sesungguhnya dia (Ali) adalah aku dan aku adalah dia sebagaimana difirmankah oleh Allah: “Dia menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya”. (S. 433: 28).
“Kemudian setelah aku (Rasulullah Muhammad Saw) adalah Ali yang menjadi walimu (pemimpin, pembimbing, pelindungmu) dan imam kamu atas dasar perintah Tuhanmu kemudian imamah (kepemimpinan) itu ada dalam keturunanku dari jalur Ali sampai nanti hari kamu sekalian bertemu Allah dan RasulNya (hari kebangkitan).

"Sesungguhnya Allah menyempurnakan agama kamu dengan keimamahan Ali; barangsiapa yang tidak mengikutinya (Ali) dan tidak mengikuti para penggantinya dari keturunannku dari jalur Ali sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah mereka adalah orang-orang yang amal perbuatannya gugur (terhapus) dan mereka akan kekal di dalam neraka dan tidak ada keringganan azab dan mereka akan terabaikan”.
“Nur cahaya dari Allah telah mengalir ke dalam diriku kemudian mengalir ke dalam diri Ali kemudian kepada anak keturunan darinya sampai kepada al-Qaim al-Mahdi yang mengembalikan haq Allah dan haq kami kepada tempatnya”.
“Sesungguhnya aku telah serahkan masalah imamah umat dan mewariskannya kepada imam-imam sesudahku sampai hari kiamat; sungguh aku telah menyampaikan apa yang diperintahkan untuk disampaikan kepada semua yang hadir di sini dan yang tidak hadir”.

“Aku (Nabi Muhammad Saw) adalah jalan Allah yang lurus yang kamu sekalian diperintahka untuk mengikutinya, kemudian dilanjutkan oleh Ali dan kemudian dilanjutkan oleh anak keturunanku dari jalur Ali; yakni para imam yang membimbing kepada yang haq (benar) dan dengan yang haq itu mereka berlaku adil”.
“Ketahuilah bahwa penutup para imam adalah al-Qaim al-Mahdi (penegak yang haq dan orang yang memperoleh hidayah), ketahuilah bahwa dia adalah penegak agama, dia adalah pembela aggama Allah, dia adalah orang yang tenggelam dalam samudera (makrifat dan hakikat) yang amat dalam, dia adalah pewaris segala ilmu (utamanya ilmu hakikat) dan menguasainya, dia adalah pembawa berita dari Allah dan pemberi peringatan mengenai masalah iman, dia adalah imam terakhir pembawa hujjah dan selain dia tidak ada hujjah, dan tidak adalah kebenaran kecuali selalu bersamanya (dia adalah lambang kebenaran, atau dia adalah kebenaran itu sendiri), tidak ada nur cahaya kecuali hanya ada padanya, tidak ada kekuatan yang mengalahkannya dan tidak akan ada yang menang atasnya”

ii-d). Peran Imam Ali dan para Imam sesudahnya,
“Dialah (Ali) orang yang memberi bimbingan ke jalan yang haq dan dia sekaligus mengaktualisasikannya dan dia menghancurkan apa yang batil dan mencegahnya tanpa peduli terhadap cercaan orang yang mencercanya”.
“Dia (Ali) adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasulullah”.
“Nur cahaya Allah mengalir ke dalam diriku kemudian ke dalam diri Ali kemudian ke dalam keturunannya sampai kepada Imam al-Qaim al-Mahdi yang (berperan) mengembalikan haq Allah dan haq kami ke tempat yang semestinya. Allah menjadikan kami hujjah dan bukti kebenaranNya atas orang-orang yang membangkang, penentang, pengingkar, pengkhianat, pelaku dosa dan para orang-orang dhalim dari seluruh manusia”.
“Ketahuilah bahwa penutup para imam adalah al-Qaim al-Mahdi (penegak yang haq dan orang yang memperoleh hidayah), ketahuilah bahwa dia adalah penegak agama, dia adalah pembela aggama Allah, dia adalah orang yang tenggelam dalam samudera (makrifat dan hakikat) yang amat dalam, dia adalah pewaris segala ilmu (utamanya ilmu hakikat) dan menguasainya, dia adalah pembawa berita dari Allah dan pemberi peringatan mengenai masalah iman, dia adalah imam terakhir pembawa hujjah dan selain dia tidak ada hujjah, dan tidak adalah kebenaran kecuali selalu bersamanya (dia adalah lambang kebenaran, atau dia adalah kebenaran itu sendiri), tidak ada nur cahaya kecuali hanya ada padanya, tidak ada kekuatan yang mengalahkannya dan tidak akan ada yang menang atasnya”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar