"Kamu dan para imam dari keturunanmu sesudahku ibarat perahu nabi Nuh; siapa yang naik di atasnya selamat, dan siapa yang menolak (tidak mau mengikuti seruannya) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang ; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”

(H.R
Imam Bukhari, Al Hakim dan Adz Dzahabi)

Kamis, 29 April 2010

IMAM ALI SETELAH WAFAT RASULULLAH SAW



Oleh : DR. Khozin Affandi


Setelah Rasulullah saw  wafat, Abu Bakar dibai’at menduduki jabatan khlaifah setelah melalui pertentangan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Ditulis oleh Al-Mas’udi dalam kitabnya “Murujud-Dhahab” juz 2,halaman 307,bahwa Imam  Ali dan Bani Hasyim tidak turut membai’at Abu Bakr. Mereka baru memberikan bai’at kepada Abu Bakr setelah Siti Fatimah wafat (enam bulan setelah Rasulullah saw wafat). Sebelum wafat, Siti Fatimah berpesan kepada suaminya (Imam Ali) agar jenazahnya dikubur secara sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui siapapun. Memenuhi pesan istri sekaligus putri kesayangan Rasulullah Muhammad saw,Imam Ali menguburkan jenazah istrinya di malam hari dan tidak diketahui siapapun. Sampai sekarang sejarah hanya mengatakan bahwa makam Siti Fatimah majhul (tidak diketahui).

Apapun yang terjadi pada waktu itu, yang jelas setelah Abu Bakr menduduki tampuk kekhilafahan Imam Ali bin Abu Thalib tetap berupaya memperjuangkan hak dan kebenaran dirinya untuk menjadi pengganti Rasululah saw  sesuai wasiat beliau tentang Maula. Namun kondisi ini malah berubah menjadi polemik. Karena itu  untuk menghindari kondisi menjadi keruh dan menjaga keberadaan umat Islam, Imam Ali mengambil sikapnya yang khas.

Setelah semua kejadian tersebut, Imam Ali bin Abi Thalib menyendiri dan melanjutkan kehidupan pribadinya. Disamping masalah bai’at, penguasa saat itu menghendaki Ali untuk tidak menyuarakan hak dan kebenarannya  sebagai pengganti Nabi saw. Pihak penguasa juga menghendaki agar Imam Ali ikut serta menghunus pedang berperang untuk memperkuat Kekuasaan penguasa melawan musuh dan orang-orang yang murtad. Untuk per mintaan ini Imam Ali menolak. Atas sikap seperti ini, penguasa memandang wajar jika harus mengabaikan dan merendahkan beliau di mata umum. Dan politik ini juga yang menambah keterasingan beliau di tengah masyarakatnya. Di sisi lain, kaum Quraisy pun bersikap tidak peduli terhadap nasib Imam Ali.

Dalam suatu doanya, Imam Ali mengadukan sikap kaum qurays,”Ya Allah, aku meminta pertolonganmu dari orang-orang Quraiys dan siapapun yang mendukung mereka. Sesungguhnya mereka telah memutus tali hubungan kekerabatan denganku, meremehkan posisiku dan bersepakat memerangiku karena satu hal yang merupakan milikku.”

Jadi disamping menghadapi siasat pemegang kekuasaan saat itu, beliau juga harus berhadapan dengan sukunya sendiri yakni suku quraiys yang juga tidak bersahabat dengan beliau.
“Ya Allah, aku menangis dan tak seorangpun yang menolong dan membelaku kecuali orang-orang khususku, yang mana aku tidak sampai hati membawa mereka sampai titik kematian …”.

Doa pengaduan di atas sudah cukup untuk membaca politik kekuasaan para khalifah saat itu dan sikap kaum quraiys kepada beliau.


Khalifah Umar bin Khattab menjelang akhir kepemimpinannya mengangkat dewan syura terdiri dari enam orang untuk memilih khalifah setelah dia. Dia juga berpesan manakal terjadi perselisihan maka hendaklah berpegang pada kelompok yang di dalamnya ada Abdur Rahman bin Auf. Dewan Syura adalah :
  1. Ali bin Abi Thalib (dari Bani Hasyim)
  2. Usman bin Affan (Bani Umayah)
  3. Abdurrahman bin Auf (Bani Zuhrah)
  4. Sa’ad bin Abi Waqash (Bani Zuhrah)
  5. Thalhah bin Ubaidillah (Bani Tamim)
  6. Zubair bin Awwam, suami Asma’ binti Abu Bakar saudari Siti Aisyah binti Abu Bakr. Jadi ada hubungan kekerabatan antara Zubair dan Siti Aisyah. Karena itu ketika Zubair mengadakan pemberontakan kepada khalifah Ali bin Abi Thalib yang baru saja dibai’at sebagai Khalifah, Siti Aisyah membantu Zubair bin Awwam.

Dalam Syarh Nahjul Balaghah Imam Ali pernah mengingatkan dewan syura untuk lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan yang mendalam dalam mengambil keputusan memilih khalifah agar tidak menyesal di kemudian hari. Tetapi Dewan lebih memilih perkataan Umar bahwa “Ali ra.adalah seorang yang suka bercanda, sebuah karakter yang sangat menyakitkan Ali bin Abi Thalib karena perkataan itu diungkapkan dengan nuansa negatif. Kata-kata Umar inilah yang menjadi alasan bagi Mu’awiyah dan Amr bin ‘Ash di kemudian hari dengan mengatakan “Ali suka bermain-main” dalam pengertian sebagai orang yang tidak bersungguh-sungguh. Dengan berbagai upaya,Imam Ali melakukan pembelaan diri meski itu tidak membantu apa-apa.


Imam Ali menjalani kehidupan terpencil dan tersudut di kota Madinah yang berakibat tidak dikenal oleh khalayak muslim. Roda zaman bergulir dengan cepat sementara beliau sendiri tetap menyendiri seolah terasing di Madinah. Beliau hanya ditemani beberapa sahabat muka-muka lama seperti Abu Dzar al Ghifari, Abu Darda. Di Irak dan syam tak seorangpun mengenal beliau. Hanya Yaman saja yang pernah melihat beliau bernama Jundab bin Abdillah bercerita :” Setelah berbai’at kepada Utsman, aku pergi ke Irak dan kuriwayatkan keistimewaan Ali bin Abi Thalib kepada masyarakat setempat. Jawaban terbaik yang kuterima dari mereka adalah “singkirkan saja kata-kata seperti ini dan fikirkanlah sesuatu yang bermanfaat untuk dirimu.” Kujelaskan pada mereka bahwa kata-kataku ini  sungguh bermanfaat bagiku dan bagi kalian semua. Namun mereka bangkit dan pergi meninggalkanku.

Di antara faktor lain yang membuat perpecahan makin meruncing pada masa pemerintahan Utsman adalah Dewan Syura di atas, karena masing-masing anggota Syura menjadi sangat haus kekuasaan. Harapan mereka terhadap khalifah jauh lebih besar daripada harapan Imam Ali bin Abi Thalib. Harapan beberapa sahabat (yang haus kekuasaan) tersebut besar dikarenakan dua khalifah yang telah berkuasa tidak memberikan apapun  yang semestinya ada pada diri Imam Ali. Di depan masyarakat muslim mereka malah sering menunjukkan kelemahan-kelemahan Imam Ali. Keadaan sepertii ini menjadikan Imam Ali orang yang terlupakan dan tidak dikenal sebagai sahabat setia yang memiliki keutamaan . sementara itu para sahabat yang mengeetahui keutamaan Imam Ali  sejak zaman Nabi Muhammad telah meninggal dunia, dan telah lahir generasi baru yang mengenalnya seperti orang baru mengenal Islam. Yang tersisa dari kebanggan beliau saat itu adalah Ali sebagai saudara misan Rasulullah, suami puteri tercinta dan ayah dari cucu-cucu Nabi saw. Adapun keistimewaan beliau yang lain telah terkubur. Ditambah lagi denga permusuhan Quraisy terhadap beliau di mana mereka tidak pernah membenci seseorang seperti itu. Kebencian Quraiys terhadap Imam Ali amat mungkin disebabkan peran beliau dalam berbagai perang membela misi Rasulullah menghadapi kaum Quraiys serta banyak para jawara Quraiys yang terbunuh oleh pedang Imam Ali dan sayyidina Hamzah.

Tersingkirkan, terbuang dan terlupakan. Gambaran inilah yang dialami oleh Imam Ali bin Abi Thalib sosok yang dipilih oleh Rasulullah sebagai maula, pewaris dan penerus “wilayah  ilahiyah”. Dalam sebuah sabdanya, Nabi SAW menyatakan bahwa dirinya adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintu memasuki kota tersebt. Kota ilmu adalah “al-wilayah al-ilahiyah”, sebuah wilayah ilmu hakekat. Ini adalah salah satu pesan beliau kepada umatnya sebelum beliau dipanggil menghadap Allah SWT.Setelah nabi maka Alilah menjadi maula. Maula bagi mereka yang ingin menjadi penghuni Al wilayah al ilahiyah. Maula tidak harus ditafsirkan sebagai pemegang wewenang politik kenegaraan sebagaimana polemik sunni dan syi’I, melainkan juga difahami sebagai pemegang wewenang ilmu hakekat,wallahu a’lam.

Seseorang berkata kepada Abu Ja’far Naqib (Yahya bin Abi Zaid) “kagum saya kepada Ali bin Abi Thalib adalah beliau mampu bertahan selama itu setelah wafatnya Rasulullah saw, padahal kaum Quraiyspun sangat dengki terhadap beliau. Lalu orang itu bertanya,”Apa gerangan yang membuat beliau mampu bertahan sedemikian lama?”. Abu Ja’far pun menjawab,”Apabila beliau tidak mengecilkan diri sekecil mungkin dan tidak mengucilkan diri di sudut rumahnya,sungguh beliau selalu diteror. Namun beliau telah mengubur dirinya dari ingatan masyarakat dan menyibukkan diri dengan ibadah,shalat dan membaca Al-Qur’an. Beliau telah keluarkan kesibukan duniawiyah. Beliau lupakan dirinya sebagai prajurit pemberani dan kini fokus bertaubat dan tenggelam ke dalam bumi seakan menjadi pertapa di gunung.

Kehidupan menyendiri dan terpencil ditengah masyarakat merupakan sebagian dari perjalanan hidup beliau yang selama ini terkenal sebagai prajurit pemberani dan selalu menang di dalam berbagai peperangan menghadapi musuh-musuh Islam dan musuh-musuh Nabi saw. Di tangannya tergenggam pedang yang amat terkenal dengan nama ‘Dhul-Faqar’. Kemashuran beliau sebagai pemuda sekaligus prajurit pemberani serta kemashuran pedangnya tercatat didalam sejarah,sebagai berikut :

(“Tak ada pedang selain”Dhul-Faqar dan tak ada pemuda selain Ali”)

Arti harfiah Dhul-Faqar adalah tulang punggung atau tulang belakang yang memanjang dari dari tulang leher belakang sampai bawah  tulang rusuk. Seseorang yang tidak punya  tulang punggung tentu tidak akan bisa berdiri tegak apaladi dalam saat-saat kesulitanmenghadapimusuh-musuhnya baik dari kaum Quraisy maupun kaum Yahudi. Syair di atas menggambarkan bagaimana kehebatan Imam Ali dan pedangnya yang tidak ada yang bisa menandinginya. Muhamad Ridha dalam kitabnya Al-Imam Ali Bin Abi Thalib, hlmn;24 menceritakan tentang syair di atas. Syair di atas berhubungan dengan Perang Uhud. Dalam perang ini, Ali berhasil membunuh tiga jawara dari Suku Ulwiyah. Kemudian Rasulullah SAW melihat sekelompok  musyrik kaum Quraisy, beliau memerintahkan Ali untuk menyerang mereka. Ali Bin Abi Thalib berhasil memporak porandakan kelompok musyrik kaum Quraisy serta membunuh ‘Amr bin ‘Abdullah al-Jumahi. Setelah itu Rasulullah SAW memerintahkannya lagi yang serupa karena beliau melihat satu kelompok musyrik lagi. Alipun segera menyerang kelompok Quraisy sehingga kelompok mereka kocar-kacir melarikan diri. Ali juga berhasil membunuh Syaibah Bin Malik, salah satu dari Bani Amir Bin Lu’ay.  Seketika itu Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah,”Ini adalah Perang yang memperkokoh”. Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya dia (Ali)adalah bagian dariku dan aku pun adalah bagian darinya (Innahu minnii wa ana minhu). Malaikat Jibril pun manjawab:”Aku adalah bagian dari engkau berdua (wa ana minkuma). Selesai berkata demikian tiba-tiba mereka mendengar suara:


(Tiada Pedang melainkan Dhul Faqar, dan Tiada Pemuda melainkan Ali)

Dalam Perang Badar, perang pertama umat Islam melawan kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan. Ali Bin Abi Thalib saat itu baru melaksanakan pernikahan dengan Siti Fatimah az Zahra, puteri Nabi Muhammad SAW, terlibat dalam peperangan. Ali bersama sayyidina Hamzah paman Rasulullah adalah pahlawan perang Badr. Hamzah mengahadapi Utbah bin Rabi’ah dan Ali melawan al Walid bin Utbah. Keduanya berhasil mengalahkan dua jagoan  Quraiys ini. Di samping dua gembong ini banyak pasukan Quraisy Mekah yang terbunuh menghadapi Ali dan Hamzah.

Dalam perang Uhud, Ali menghadapi tantangan Talha bin Abi Talha yang berteriak menantang umat Islam yang berani berduel dengannya. Ali bangkit dan ketika keduanya berhadapan, Ali segera menghantam Talhah yang tewas seketika. Perang Khandak (Ahzab) juga menjadi saksi keberanian dan kepahlawanan Ali ketika menghadapi Amar bin Abdi Wud  dengan satu tebasan pedang Dhul Faqr. Demikian pula peran besar beliau dalam perang Khaibar. Perang ini terjadi menyusul penghianatan kaum Yahudi terhadap perjanjian Hudaybiyah yang mensepakati perdamaian. Penghianatan Yahudi yang menghianati perdamaian inilah yang menjadi penyebab perang. Kaum Yahudi bertahan di benteng Khaibar yang terkenal amat kokoh. Para sahabat termasuk pasukan pimpinan Umar bin Khatab tidak ada yang mampu membuka pintu benteng yang sangat kuat. Mereka mengadu kepada Rasulullah SAW.

Muhammad Ridla dalam kitabnya “al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib raabi’ al-Khulafa’ur raasyidin”, menulis demikian :

Mulanya Rasul memberikan bendera perang kepada Umar bin Khatab. Lalu diapun berangkat diikuti oleh para sahabat. Di Khaibar mereka dihadang pasukan musuh (kaum Yahudi). Umar dan para sahabat tidak meneruskan perang melainkan mereka kembali kepada Rasulullah. Selesai Rasulullah mendengar pengaduan Umar dan para sahabatnya (bergantian), Rasul menjawab, “besok aku akan menyerahkan bendera perang kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasulnya, dan Allah dan Rasulnya juga mencintai dia.” Maka para sahabat menunggu harapan sekian lama termasuk Abu Bakr dan Umar tentang siapa orang yang dimaksud oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah memanggil Ali yang saat itu tengah sakit mata (armada), maka Rasul menyuwuk dua matanya (fatafala’ainaihi). Sejenak kemudian bangkitlah Ali menuju kancah kancah perang. Ali berhasil mendobrak pintu benteng Khaibar dan berhasil membunuh prajurit Yahudi yang gagah bernama Marhab. Mungkin dia mendapat tugas menjaga pintu benteng.

Riwayat sejarah mengatakan, ketika perisai Ali terlepas dari tangannya akibat dikeroyok musuh, beliau mendobrak pintu benteng yang sangat kokoh. Pintu itupun kini dijadikan perisai dan beliau terus maju menyerang musuh sampai Allah memberikannya kemenangan.

Keutamaan lainnya dari Imam Ali adalah bahwa ketajaman lisannya. Mutiara hikmah yang keluar dari lisannya melalui khotbah-khorbahnya,pidato-pidatonya serta surat-surat beliau  adalah khazanah intelektual muslim yang bernilai tinggi. Nahjul –Balaghah adalah wujud konkret sekaligus sebagai bukti dari lisan seorang prajurit ksatria yang pedangnya tajam sekaligus seorang maula pilihan seorang Rasul yang terpilih yang melanjutkan tugas kerisalahan untuk kehidupan kerohaniahan. Lebih dari itu, beliau adalah pintu satu-satunya bagi mereka yang ingin masuk ke dalam al-wilayah al-ilahiyah.

Dan ketika Rasulullah wafat, cerita bagi Imam Ali menjadi berbeda atau bahkan berubah, dari seorang prajurit yang gagah berani dan seorang pewaris maula, kini dipaksa menerima kenyataan seperti penulis gambarkan secara ringkas di atas. Menghadapi masa-masa sulit selama pemerintahan tiga khilafah sebelumnya, beliau memilih jalannya sendiri mengasingkan diri dari kesibukan duniawiyah. Kemudian datang kesempatan setelah Utsman bin Affan. Namun belum sempat duduk dengan tenang, sudah muncul pemberontakan oleh Thalhah, Zubair dan didukung siti Aisyah. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan, namun segera disusul pemberontakan Mu’awiyah, gubernur Syria. Pecahlah perang Shiffin sebuah erang saudara yang diakhiri dengan tahkim yang merugikan pihak Ali bin Abi Thalib. Pada akhirnya, Imam Ali gugur dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam dari kalangan kaum Khawarij. Khawarij dari kata ‘kharaja’ artinya keluar. Golongan khawarij adalah sebutan bagi mereka yang keluar dari barisan Imam Ali setelah melihat tahkim itu merugikan pihak Ali. Khawarij lalu merencanakan membunuh tiga figur, yakni Mu’awiyah, Amr bin Ash dan Ali bin Abi Thalib. Tiga orang ini oleh kaum khawarij dianggap telah kafir karena memutuskan hukum tidak berdasar hukum Allah. Khawarij – dalam sejarah Islam, menurut sebagian pendapat, adalah garis keras yang pertama lahir di dalam rumah Islam. Imam Ali ditusuk dengan tombak beracun pada tanggal 19 Ramadhan, dan wafat pada 21 Ramdhan tahun 41 H. Sedangkan Amru bin Ash dan mu’awiyah erhindar dari pembunuhan khawarij.

Dari empat sahabat besar (Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali) maka Imam Ali lah memiliki kelebihan tersendiri. Di antaranya adalah warisan khazanah intelektual beliau berupa ilmu yang terhimpun dalam kitab: “Nahjul balaghah”. Kitab ini menjadi sebuah sumber mata air ilmu yang mengalirkan kejernihan kognisi, emosional dan spiritual. Di dalam kitab tersebut termuat materi tentang ketauhidan, politik, sosial budaya ekonomi, tasawuf dan moral spiritual.

Referensi:
  1. Muruj ad-Dhahab oleh Abu al-Hasan bin al-Husain al-Mas’udi
  2. At-Thabaqat al-Kubara oleh Muhammad bin Sa’d az-Zuhri
  3. Sirah an-Nabawi oleh Abu Muhammad Abdul Muluk bin Hisyam
  4. Fiqhus-Shirah oleh Muhammad Sa’id Ramadlan al-Buthi
  5. Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a: Rabi’ul khulafa ‘ ar-Rasyidin oleh Muhammad Ridla
  6. Syarh Nahjul Balaghah oleh Ibn Abil Hadid
  7. As-Shillah bainat –Tasawwuf wat-tasyayyu’ oleh Kamil Mustafa as-Syaibi.

5 komentar:

  1. Berkunjung malam2 ke sahabat blogger senior dengan harapan mendapatkan nasihat untuk memperbaiki kondisi dan isi blog yang belum berumur satu bulan, ditunggu kunjungan baliknya.
    di http://islamiyah-mi.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. ikut menyumbang
    http://spesialis-torch.com/content/view/141/29/

    BalasHapus
  3. Masya Allah. Terima kasih atas berita ini. Saya jadi miris mendengarnya. Syd Ali bin Abi Thalib adalah pahlawan besar bagi Islam. Dalam kondisi yg berat, Rsulullah selalu memilih Ali untuk menanganinya. Dan dgn rahmat Allah dan doa Rasulullah sejarah telah membuktikan bahwa Sd Ali bin Abi Thalib adalah orang besar. Amin

    BalasHapus
  4. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Kegagalan tidak seharusnya membuat kita rapuh .,.
    tapi justru itulah cambuk kita menuju kesuksesan.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus
  5. ternyata seperti ini...........ya alloh

    BalasHapus